Sidang Paripurna mengambil tema “Memperkuat Komitmen Pelaksanaan Merdeka Belajar dan Belajar Mandiri, Mereduksi Jurang antara Budaya Perguruan Tinggi dan Budaya Industri, dan Menggalang Kerja Sama dalam Pencapaian World Class University”.
SENAT AKADEMIK: Masa depan perguruan tinggi akan banyak menghadapi tantangan yang sangat kompleks, baik secara struktural maupun kultural. Super Kompleksitas ini menuntut perguruan tinggi untuk mengembangkan 4 unsur kapasitas, yaitu membingkai ulang perubahan yang begitu cepat, memahami dan kritis terhadap keragaman menuntut ilmu, mengadaptasikan agar individu merasa nyaman dalam ketidakpastian, dan mengembangkan kekuatan tindakan kritis berdasarkan prioritas.
Hal tersebut disampaikan Ketua Majelis Senat Akademik Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (MSA PTNBH), Prof. Dr. D. A. Suriamihardja dalam Sidang Paripurna MSA PTN-BH, Sabtu (10/7/2021). Sidang tersebut dilaksanakan secara daring dengan USU sebagai tuan rumah pelaksa serta diikuti oleh Ketua Senat Akademik beserta tim dari 12 PTN-BH di Indonesia. Sidang ini merupakan lanjutan dari sidang paralel MSA PTN-BH yang dilakukan pada tanggal 23 januari 2021, yang difasilitasi oleh UPI di Bandung.
Menurut Ketua MSA PTN-BH, diperlukan formulasi baru yang tidak hanya cukup pada pembelajaran yang berbasis pada kompetensi, namun juga harus dapat mengembangkan kapasitas dalam proses pembelajaran. Kepentingan inilah yang melonggarkan keketatan kurikulum program studi menuju Merdeka Belajar Kampus Merdeka.
“Pada masa pandemi ini kita telah mencatat beragam peran dan produk perguruan tinggi dalam memerangi pandemi. Semoga hasil-hasil penelitian tersebut dapat dimanfaatkan oleh pihak industri untuk diproduksi secara meluas. Namun, diperlukan uji kelayakan secara teknis, ekonomis, dan lingkungan, selain harus menyesuaikan dengan tuntutan zaman dan pasar. Perguruan tinggi dan dunia industri telah menyadari bahwa terdapat kesenjangan yang harus direduksi oleh kedua belah pihak dan melakukan pendekatan yang serius untuk memanfaatkan bersama potensi sumber daya manusia dan fasilitas yang ada untuk kemajuan bangsa dan negara,” paparnya.
Menurutnya, perjalanan masih panjang untuk meniti ranking terbaik dunia. Aspek penting dalam penelitian itu adalah reputasi akademik,, yaitu sejauh mana fleksibilitas perguruan tinggi kita di mata dunia, jumlah sitasi dari artikel yang dipublikasi, juga jumlah mahasiswa asing yang dimiliki. Untuk memperkuat reputasi akademik di perguruan tinggi memerlukan beberapa upaya seperti menggalakkan kerja sama pendidikan, kerjasama penelitian, dan pertemuan ilmiah dalam tingkat nasional dan internasional.
Sebelumnya, Ketua Senat Akademik Universitas Sumatera Utara yang juga sebagai Ketua Penyelenggara Sidang Paripurna MSA PTN-BH, Prof. Dr. Suwarto, S.H., M.H., menyatakan bahwa forum yang menghadirkan Dirjen Dikti, Prof. Ir. Nizam, M.Sc., DIC, Ph.D., IPU, Asean Eng, sebagai keynote speaker dan Direktur Sumber Daya Dirjen Dikti, Dr. Mohammad Sofwan Effendi, M.Ed., serta Wakil Ketua MSA PTN-BH, Prof. dr. Djoko Santoso, Sp. PD, Ph.D., K-GH, FINASIM, sebagai pemantik itu menjadi upaya yang dilakukan untuk membuka ruang diskusi dalam melakukan banyak hal yang sejalan dengan implementasi Merdeka Belajar Kampus Merdeka. Sidang Paripurna mengambil tema “Memperkuat Komitmen Pelaksanaan Merdeka Belajar dan Belajar Mandiri, Mereduksi Jurang antara Budaya Perguruan Tinggi dan Budaya Industri, dan Menggalang Kerja Sama dalam Pencapaian World Class University”.
Adapun, Rektor USU, Dr. Muryanto Amin, S.Sos., M.Si., dalam sambutannya yang sekaligus membuka sidang secara resmi menyampaikan apresiasinya atas penyelenggaraan kegiatan tersebut. Selain itu, ia mengingatkan bahwa ada banyak hal yang harus didiskusikan dengan serius untuk menuangkan keinginan perguruan tinggi dalam menerjemahkan sinergitas dan kolaborasi perguruan tinggi dengan dunia industri, di mana antara kedua pihak terdapat perbedaan yang sangat mendasar tentang tujuan final yang ingin dicapai. Dunia industri dengan tujuan utamanya yang berbasis pada ranah commercial dan income-based kini diminta untuk bergandengan tangan dan saling bersinergi secara penuh dengan dunia perguruan tinggi yang berlandaskan pada bidang akademik dan kegiatan non-profit. Secara kasat mata, perbedaan mendasar ini tentu membutuhkan upaya dan pemikiran yang serius untuk menyatukannya sebagai blended-learning dan mencapai satu tujuan yakni menciptakan sumber daya manusia yang unggul, siap pakai, kompetitif, dan selaras dengan tuntutan kebutuhan dunia kerja yang semakin kompleks.
“Output yang ingin dicapai oleh industri lebih dominan dalam bentuk profit atau keuntungan material. Sementara perguruan tinggi menyandarkan outputnya pada multi-benefit yang tidak hanya berupa hal-hal material belaka. Kebermanfaatan bagi kehidupan, baik dalam makna luas maupun sempit adalah tujuan utama dari berbagai kegiatan akademik dan Tri Dharma yang dilaksanakan oleh perguruan tinggi. Maka untuk mereduksi lebarnya jurang perbedaan itu, tentu harus menerjemahkan serta menyatukan persepsi dan langkah yang ditujukan bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia yang dihasilkan oleh perguruan tinggi. Kegiatan magang, riset, hilirisasi produk inovasi, dan mengundang para praktisi untuk mengajar adalah beberapa dari banyak contoh kegiatan yang bisa diajukan oleh perguruan tinggi guna melakukan transformasi atas bentuk kegiatan tri dharma perguruan tinggi yang bisa disandingkan dengan keinginan dan kebutuhan dunia industri,” tandasnya.